Music Balasyik Mencoba Menembus Tirai…
Music Balasyik Mencoba Menembus Tirai…
MUSIK itu universal. Ia boleh dinikmati siapa saja dan dari kalangan mana pun. Itulah pula yang ingin dicapai Yahya MM, pimpinan musik gambus Balasyik yang tampil di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (29/01/2000) malam.
Keinginan Yahya MM dan juga awak perkumpulan Orkes Gambus Balasyik dari Jember ini boleh jadi menjadi kenyataan. Dalam pementasan perdana di TIM itu, Balasyik mendapat sambutan menggembirakan dari penonton yang memenuhi tempat pertunjukan.

Melihat besarnya minat penonton yang tak ragu merogoh kocek untuk pembeli tiket seharga Rp 40.000-Rp 100.000, boleh jadi memperlihatkan kerinduan mereka kepada hiburan musik gambus. Terlebih jika dilihat betapa mereka antusias ikut bertepuk tangan, menyanyi dan menggoyang-goyangkan badan di tempat duduk masing-masing.
Sepanjang sekitar tiga setengah jam, nyaris tak ada penonton yang pulang meninggalkan pertunjukan. Bahkan ketika Nizar Ali, salah satu dari tiga penyanyi, menyilakan penonton ikut menari di depan panggung, beberapa remaja dan bapak-bapak “turun”.
Tiga penyanyi Anis TT, Mustofa Abdullah dan Nizar Ali tanpa henti menggoyang penonton lewat 28 lagu dalam bahasa Arab maupun Indonesia.
GAMBUS sebenarnya adalah nama gitar berbentuk lonjong-bulat bersuara khas. Dalam musik tradisional gambus, ada alat marwas (semacam gendang di sisi bawah dan atas), serta biola. Musik jenis tersebut selama ini dikenal sebagai hiburan yang lebih banyak melagukan irama rohani.
Meski berirama Timur Tengah, tetapi menurut pimpinan orkes gambus Balasyik Yahya MM, sebenarnya jenis musik gambus banyak dijumpai di wilayah Riau, Betawi, Kalimantan, dan Jawa. Di Jember (Jatim) sendiri, musik itu disebut japinan. Di kalangan kaum muslim di kota-kota tertentu di Jawa Timur seperti Pasuruan, Jember (daerah tapal kuda) dan kawasan Madura, gambus sering menjadi hiburan di tengah perhelatan perkawinan, khitanan, dan acara keluarga lainnya.
Irama dinamis yang dibunyikan gambus biasanya dipermanis penari pria yang menarikan gerakan khas. Uniknya, entah karena sang penyanyi lebih banyak melantunkan lagu berbahasa Arab, maka musik gambus sering dinilai berkait erat dengan soal agama (Islam). Berkaitan dengan aturan dalam Islam maka sampai sekarang, wanita tidak diperbolehkan menjadi penyanyi, pemain, apalagi ikut menari. “Rasanya aturan itu masih akan tetap dipegang masyarakat sendiri karena berhubungan dengan ajaran Islam, ” kata Mustofa Abdullah, vokalis Balasyik.
Boleh jadi, ini menjadi satu sisi keuntungan musik gambus. Dalam pertunjukan belum pernah terdengar cerita ada perkelahian atau keributan yang mengiringinya seperti biasa terjadi pada musik dangdut atau rock.
Kenyataan bahwa musik ini hanya dikenal di kalangan tertentu membuat Yahya dan Mustofa sama-sama ingin membuat perubahan dalam gambus. “Kenapa musik ini kurang dikenal masyarakat luas, karena ia hanya ada di kalangan tertentu,” tutur Mustofa, mantan penyanyi rock di Kota Malang. Kelompok ini berupaya membuat musik gambus menjadi hiburan yang kelak dikenal kalangan yang lebih luas.
Berbagai upaya ditempuh, misalnya dengan memasukkan gitar bas dan melodi, organ, seruling sampai drum dan gendang. Jenis musik seperti reggae, pop hingga dangdut mewarnai aransemen lagu-lagu yang kini masih didominasi bahasa Arab.
Sadar bahwa untuk menjadi besar, butuh bahasa yang mudah dipahami orang, tahun 2000 ini, Yahya akan lebih banyak menampilkan lagu dalam bahasa Indonesia. “Problem kami sebenarnya adalah sulitnya mencari pengarang lagu untuk musik kami,” ujar Yahya.
Bisa jadi, Balasyik kini menjadi satu-satunya orkes gambus yang berkembang menuju musik yang biasa kita nikmati. Tak heran kalau kelompok ini makin dikenal banyak kalangan baik dalam maupun luar negeri. Order bagai tak pernah putus, utamanya pada musim kawin. Sebulan mereka bisa mendapat 25 kali order manggung dari berbagai wilayah di Indonesia. “Ada order dari Malaysia, tetapi sulit kami penuhi karena mereka minta jumlah pemusik dikurangi, sedangkan kami tak ingin kualitas musiknya berkurang,” jelas Yahya.
Balasyik mencoba terus maju menguak tirai musik tradisional yang karena hanya dijaga justru musnah tak berbekas. Inilah salah satu perubahan yang dilakukan grup ini, dengan mencipta lagu jenaka berjudul Jangan Lama-lama.
Jangan lama-lama adik memandang abang/sudah banyak wanita jatuh cinta kepada abang/sudah banyak wanita minta kawin sama abang/ Abang sudah bilang senyum abang berbahaya, sekali kena bisa tergila-gila…
Sumber: Kompas - Senin, 31 Januari 2000
balasyik is the best